Pendakian Gunung Talang nan Lanyah

By Soniaaa - 2/02/2020 03:00:00 PM



Demikian judul yang dapat saya berikan untuk memulai cerita pendakian yang sangat telat update ini. Pada Maret 2017, selepas dari wisuda sarjana lah pendakian ini dilakukan. Sekitar tiga tahun lalu. Ini merupakan inisiatif beberapa sahabat saya—yang notabene nya sudah sering menggunung. Melewati beberapa drama terlebih dahulu sebelum start berangkat.

Berangkat dari salah satu rumah kontrakan sahabat, kami beranjak menuju Kabupaten Solok pada sore menjelang Maghrib. Kami menempuh perjalanan kurang lebih dua jam lebih menggunakan sepeda motor via jalan raya Padang-Solok dimana akan melewati Sitinjau Lauik yang tersohor kelok nya. Sebelumnya semua sudah kami persiapkan saat packing ulang di rumah kontrakan tadi. Dengan menggendong carrier, kami bersama sepeda motor ini melesat cepat menyusuri jalan, sesekali hujan turun memaksa kami untuk berhenti untuk menggunakan jas hujan.

Menuju kaki gunung ini, jalan ber-aspal yang dilalui sudah sangat bagus. Kiri kanan dapat dijumpai perkebunan teh. Udara nya begitu sejuk, dingin iya. Jalur ini jalur yang sama dengan tujuan Danau Kembar: Danau Ateh Danau Dibawah. Gunung Talang ini berada di Kabupaten Solok, sekitar 40km jauh nya dari Kota Padang. Ada empat kecamatan di sekitar kaki Gunung Talang ini yaitu Danau Kembar, Lembang Jaya, Lembah Gumanti dan Gunung Talang. Kebetulan kami naik via jalur baru saat itu, yaitu Aia Batumbuak. Jalur lainnya adalah Batu Bajanjang.

Dimanjakan Pemandangan Perkebunan Teh

Biaya administrasi pendakian Gunung Talang sekitar 5 sampai 10 ribu kala itu, saya lupa tepatnya berapa, sedang untuk parkir motor seperti biasa dimana-mana akan kena biaya 3 sampai 5 ribu. Lepas Isya barulah kami mulai pendakian ini. Jika pendakian dilakukan pada pagi hingga sore hari, maka dari Basecamp sampai pos 1 kita akan menikmati pemandangan perkebunan teh pada kiri dan kanan jalan. Berhubung kami jalannya sudha gelap gulita, jadi ya tidak bisa menikmati hamparan hijau kebun teh. Saat itu belum ada jasa ojek, tidak seperti pendakian gunung di Pulau Jawa yang sudah banyak jasa ojek nya hingga pos tertentu. Perjalanan terus naik melewati hutan tropis khas Sumatra. Saya sendiri tidak begitu ingat bagaimana kondisi track saat itu karena naik malam. Hanya saja beberapa kali kami mesti berteduh sebentar dari hujan. Menurut yang saya baca sebelum menulis draft tulisan ini, saat ini sepanjang jalur menuju puncak sudah ada penanda jalur yaitu dengan tanda asmaul husna berjumlah 99 tanda.

Camping Area nan Luas

Lagi-lagi saya tidak ingat pukul berapa saya dan tim sampai di area camp. Saya sendiri sangat lelah ketika itu karena sudah kehabisan tenaga. Track nya sangat menguras tenaga. Sahabat saya yang pertama sampai sudah memilihkan area camp yang pas lalu mendirikan tenda.

Pagi menjelang, terdengar suara azan dari arah pemukiman penduduk di bawah sana. Setelah cerah baru lah kami bisa melihat-lihat sekitar. Ternyata tenda saya berada di atas bukit kecil area camp. Dari tenda saya bisa melihat warna warni tenda pendaki lain. Untuk sampai ke sana, cukup berjalan turun sedikit dari area tenda saya didirikan.

Asyik nya Gunung Talang ini, teman sekalian tidak perlu khawatir soal persediaan air. Sumber air dapat dijumpai di area camp yang luas ini. Letak nya ada di tengah area yakni berjalan sedikit ke arah kaki track saat akan summit. Dari area ini pun sudah sangat jelas terlihat di atas sana puncak gunungnya juga bau khas belerang kawah nya dapat tercium.




Puncak Gunung Talang 2.597 Mdpl

Kegagalan saya menggapai puncak Talang kala itu benar-benar menyisakan sedikit kecewa sampai saat ini. Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan summit dengan alibi sudah capek lalu ikut menemani sahabat yang juga sudah tidak kuat naik. Dari kami berdelapan orang, hanya lima orang yang sampai puncak, sekalian melanjutkan misi untuk greeting anniversary angkatan kuliah. Menurut cerita sahabat saya, di puncak akan dijumpai hutan mati, yang saya lihat lewat foto, mirip sekali dengan hutan mati nya Gunung Papandayan.

Cukup lama saya dan dua orang sahabat lainnya menikmati “puncak” nya kami sambil duduk-duduk lalu mengabadikan moment melalui beberapa foto. Dari sini tiga danau yang berada di Kabupaten Solok sudah dapat terlihat, yaitu Danau Kembar dan Danau Talang. Jika cuaca cerah, puncak Gunung Kerinci di Jambi akan mengintip dari kejauhan.


Sekembalinya sahabat saya dari summit attack, cuaca di area tenda kami mulai berkabut. Buru-buru kami melakukan agenda terasyik menurut saya dalam pendakian yakni memasak. Senda-gurau, canda-tawa selalu hadir dalam setiap moment ini. Semakin dekat dengan alam, semakin dekat dengan sahabat-sahabat seperjuangan.






Jalur Lanyah

Ini bagian yang paling berkesan bagi saya. Turun gunung. Ini turun gunung kedua kali nya saat malam hari. Leader tim ini menetapkan tetap turun saat gelap, lepas Maghrib. Saya mulai panik saat itu. rasanya tidak ingin terulang kembali kejadian di Marapi lalu—turun hujan deras di malam hari hingga tidak pakai alas kaki. Beneran kejadian, hujan deras datang hanya sesekali saja kami berhenti lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena sudah keburu basah. Talang lanyah selanyah-lanyah nya dikala hujan. Mendekati pos 1, saya jungkir-balik saat melewati track berlumpur dalam lalu licin. Dikarenakan sepatu yang dipakai saat itu sudah tipis sol bawah nya, jadilah saya kepeleset, hanya satu tangan entah kiri atau kanan yang menopang seluruh badan. Agak lama baru sahabat yang dari awal turun menuntun saya, membantu mengembalikan posisi badan normal, hehe. Parah ini lanyah abis.

Sekian kisah pendakian ketiga di Sumatra Barat.

Salam hangat,
dari kami,
Boy, Farizan, Fadila, Tomi, Atuak, Pinto, Rani
dan
Soniaaa.

  • Share:

You Might Also Like

0 silakan tinggalkan komentar ya reader :)