Menutup Tahun 2017 Bersama Gunung Papandayan

By Soniaaa - 2/02/2020 05:12:00 PM



Merantau nya saya ke pulau ini, saya pikir akan sulit menemukan tim untuk meneruskan cerita pendakian gunung. Ternyata prakiraan saya meleset. Hingga hari ini pun, saya sangat berterima kasih kepada kawan-kawan yang sudah berjalan bersama saya melakukan pendakian beberapa gunung di Pulau Jawa dan Lombok. Ternyata lebih banyak teman pendaki disini, pun gunung bertebaran dari barat hingga timur Jawa. Instagram pun mengenalkan saya pada #opentrip, #caribarengan, #sharecost, dan akun informasi update gunung. Media sosial benar-benar berperan aktif dalam hal ini.

Pendakian Gunung Papandayan ini adalah pendakian pertama saya di pulau ini. Saya agak deg-degan, bertanya-tanya apakah sensasinya akan berbeda dibanding dengan pendakian di Sumatra Barat. Dingin nya bagaimana? Track nya bagaimana? Biaya nya pun bagaimana? Saya yang belum lengkap gear pendakian ini agak panik, mengingat saya jauh dari rumah.

Tahun 2017 nan sendu kala itu ditutup dengan pendakian ceria. Yap, pendakian Gunung Papandayan secara umum tergolong untuk pemula, bahkan dinobatkan sebagai gunung wisata.
Sudah kebayang ini biaya masuknya berapa karena status nya sebagai wisata. Lokasi nya berada di Kabupaten Garut dengan tipe gunung api strato.

Bersama sahabat yang sudah dikenal dan beberapa yang baru saja bertemu, kami mulai pendakian ini ketika musim libur akhir tahun tiba. Dengan menyewa sebuah mobil kami berangkat ke Garut pada tengah malam. Jalanan masih sepi. Hingga barulah lepas Subuh kami mulai menyusuri jalanan kecil Kecamatan Cisurupan menuju pos wisata Gunung Papandayan. Matahari pagi di perjalanan kesana sangatlah indah, berwarna merah bata yang saya kira adalah cahaya sunset. Beneran indah.

Sesampainya di pos pendaftaran, kami bayar administrasi terlebih dahulu. Ini beneran biaya masuk gunung termahal. Satu orang dikenakan tidak kurang dari 60rb-70rb, belum biaya nginap mobil juga dengan harga serupa. Sejenak sebelum mulai pendakian, kami bersih-bersih dan packing ulang. Sejenak kami nikmati spot berfoto yang sudah di buat pengelola. Ya jadi maklum dengan harga tadi pun fasilitas sudah sangat baik.

Pos Wisata
Itu puncak Gunung apaya saya kurang tahu hiahia

Hal yang menjadi agak lucu bagi saya adalah saat beberapa rombongan lain dengan santai memakai pakaian yang samasekali tidak terlihat seperti akan melakukan pendakian lalu camping. Ohiya, baru tersadar bahwa ini adalah gunung wisata, yang mana bisa ditempuh dengan pergi dan pulang dalam satu hari. Oke.

Di awal pendakian akan dijumpai jalan aspal lalu anak-anak tangga yang sudha dibuat sedemikian untuk para ‘wisatawan’. Sesampainya di area yang ada bangunan toilet nya kami pun berhenti sejenak. Sekeliling terlihat bekas dari letusan dari entah kapan tahun yang katanya sangat dahsyat itu. Dari letusan itulah tercipta Gunung Papandayan beserta kawah-kawahnya yang saat ini.


Track berikutnya kita tetap disuguhi oleh anak-anak tangga yang sudah dirancang bahkan untuk jalur sepeda motor warga yang berjualan di atas sana. Bau belerang sangat menyengat di area ini jadi bagi teman sekalian yang datang ke Papandayan, silakan siap siaga membawa masker ya.

Sekitar hampir satu setengah jam berjalan santai, kita akan menemui jalur tanah yang kiri atau kanan nya adalah bukit, lebar jalannya cukup untuk dua orang. Kemudian barulah bertemu dengan jalan yang lebar nya hampir sama dengan lebar jalan raya muat dua mobil. Artinya sangat lapang untuk berpapasan. Terakhir barulah beberapa menit kemudian akan melewati pepohonan rimbun namun tidak terlalu panjang jalurnya hingga sampai di Pondok Saladah, area camping. Kami dirikan tenda di tengah-tengah pepohonan gersang dikarenakan di Pondok Saladah sudah hampir penuh mengingat sedang libur Natal dan Tahun Baru.  Ohiya, di area Pondok Saladah ini mudah sekali dijumpai Edelweis.




Summit Tegal Alun
Melewati malam yang cukup panjang karena terasa begitu dingin sekali, saya sukses bertahan ke hari berikut nya. Kami mulai kembali perjalanan untuk summit ke Tegal Alun. Melewati Hutan Mati, kami terus naik ke puncak, ke Tegal Alun. Track nya cukup menantang karena hanya bisa dilewati oleh satu orang. Terlebih pun ada beberapa spot yang kiri kanan cukup curam dengan bebatuan, spot ini berada tepat berada sesaat sebelum ditemui Tegal Alun. Saya ingat sekali ketika itu ada satu keluarga, memboyong orangtua nya untuk naik ke Tegal Alun. Semangat saya selalu terpacu melihat suasana ini, Bapak/Ibu ini sudah berumur tapi masih semangat untuk muncak.


Akhirnya kami sampai di Tegal Alun. Luar biasa! Hamparan Edelweis berkelompok-kelompok seluas-luasnya. Sudah berasa seperti teletabis berada di bukit-bukit kecilnya nan hijau, berlarian kesana-kemari. Kami nikmati hamparan Edelweis nan syahdu ini barang agak sejenak dengan berfoto-foto. Kemudian kami turun kembali ke Pondok Saladah untuk bergegas packing kembali ke kota.




Salam hangat,

Soniaaa.

  • Share:

You Might Also Like

0 silakan tinggalkan komentar ya reader :)