Pendakian Gunung Rinjani #1: Lombok, I’m in Love

By today-dream - 12/25/2020 01:23:00 PM


Akhirnya tulisan ini saya mulai juga setelah tepat satu tahun pendakian Rinjani berlalu….

 

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk mengunjungi Gunung Rinjani, karena hasrat akan Semeru masih pol seratus persen penasaran tergiur Ranukumbolo. Bermodal nekad segera saya hubungi admin @sheltergarut untuk mendaftar menjadi peserta open trip Gunung Rinjani pada 28 Desember 2019 – 1 Januari 2020. Beberapa teman saya coba hubungi barangkali ada yang bisa ikut trip bareng. Ini salah satu bagian yang agak menguras pikiran: ketidakpastian. Mulanya ada yang sangat berminat dan saya menjadi ikut semangat 45 memberikan segala informasi yang sudah saya riset sebelumnya. Namun pada akhirnya saya berangkat seorang diri. Iyaa sudah, bagian yang perlu perhatian saat punya agenda trip bersama teman adalah kemungkinan cancel.

 


Kapan lagi kan? Pikir saya saat memutuskan tidak mudik pada akhir tahun itu. Lagipula tahun sebelumnya saya juga tidak mudik namun memilih menghabiskan libur panjang akhir tahun dengan kegiatan camping ceria di Rancaupas bersama teman satu angkatan kuliah yang sebut saja “anak rantau baru”. Memang sudah diagendakan bahwa akhir tahun adalah waktunya untuk explore alam dan….me time.

 

Perjalanan ke Lombok

 

Berangkatlah saya dari Stasiun Senen menumpang Dharmawangsa ekonomi ke Surabaya. Ini pertama kalinya saya naik kereta jarak jauh lagi setelah terakhir pada tahun 2015 perjalanan Yogyakarta – Jakarta. Detail perjalanan ke Surabaya akan saya tuangkan dalam blogpost khusus nantinya yah.

 

Seorang sahabat karib menyarankan saya untuk singgah terlebih dahulu di Bali. Setelah pikir panjang akhirnya saya mengiyakan sarannya. Baiknya, saya dikenalkan dengan temannya yang sedang bekerja di Bali. Maka jadilah agenda satu hari satu malam di Bali. Lagi-lagi cerita unik di Bali akan saya posting terpisah ya.

 

    


Cuaca yang bagus menyertai penerbangan saya dari Denpasar ke Praya pada siang hari. Sungguh langit sangat cerah dan indah. Pertama kalinya juga saya terbang bersama Garuda. Kesannya sangat nyaman. Seingat saya harga tiket Garuda Bali-Lombok saat itu adalah lima ratus ribu untuk flight siang hari dengan waktu tempuh 30 menit. Tiada henti saya melihat pemandangan di bawah sana dari kaca pesawat. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Lombok, I’m in Love.

 

     


Sesekali saya capture pemandangan tersebut, kamera  hp tentunya on aeroplane mode. Sekilas terlihat Pulau Lombok sangat unik . Bukit-bukit kecil di tepi laut. Air laut yang membiru. Duh, sampai sulit sekali memilih padanan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan cantiknya Lombok.

 

Selang 30 menit berlalu, akhirnya landing di Praya. Ohiya, sebelum flight saya sempat menghubungi salah satu member open trip yang memilih meetpoint di bandara. Sesampainya di Bandara kami saling mengabari agar berkumpul di tempat yang sama. Jadilah sampai saat ini kami disebut sebagai geng bandara.

 


Sembari menunggu kedatangan anggota lainnya, beberapa dari kami yang sudah sampai berkumpul di depan bangunan bandara. Bandara ini terbilang lumayan luas dibanding Halim. Namun sama-sama tidak seramai Soetta. Mudah sekali untuk menemukan orang di sini. Saat menuju jalan keluar, seperti halnya di bandara pada umumnnya, kami langsung disambut oleh bapak-bapak ataupun abang-abang jasa travel. Di tempat lainnya juga terlihat orang-orang menunggu kedatangan sanak saudaranya.

 

     


Dari Praya – Mataram – Sembalun

 

Satu jam dua jam berlalu. Akhirnya geng bandara ini sudah lengkap. Mobil jemputan dari pihak open trip sudah sedari tadi menunggu. Lalu satu per satu kami menyusun strategi agar muat badan dan keril di dalam mobil unik ini. Mobil jemputan ini terlihat sejeni carry, di dalamnya ternyata banyak terpasang stiker-stiker bertandakan pecinta gunung. Sepertinya mobil ini sudah langganan pendaki.

Sekilas memang terlihat seperti mobil tua, tapi bapak pengemudinya sangat lihai. Meski di awal perjalanan saya sempat spanning karena saya pikir style mengendarainya sejenis ugal-ugalan. Namun makin lama makin lumayan nyaman. Bapak drivernya sangat lihai membawa mobil.

 

Kami mampir dulu ke Kota Mataram menjemput satu orang peserta open trip lagi yang katanya sudah tiba dari semalam lalu memilih menginap di penginapan dahulu. Perjalanan ke Mataram saya sempat tertidur sepertinya karena lumayan jauh dari bandara ke Mataram. Setelah pick up peserta, mobil langsung bertolak menuju Desa Sembalun.

 

Satu dua tiga hingga lebih dari empat jam berlalu. Kami menyusuri Jalan Mataram – Jalan Anjani – Jalan Segara Anak. Tepat pada waktu maghrib kami berhenti sejenak di Masjid Besar Al-Mujahidin Aikmel, Lombok Timur untuk melaksanakan kewajiban sekaligus makan siang – malam, ehmm. Menakjubkan. Posisi masjid ini tepat sekal berada di perempatan Pasar Aikmel. Saat azan berkumandang, seketika anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibuk-ibuk berbondong-bondong menuju masuk ke dalam masjid.

 


Yang terlintas dipikiran saya kala itu adalah mereka kenapa ya? Saya belum terkoneksi dengan azan tadi, karena memang sungguh sangat jarang bahkan hampir tidak pernah saya melihat moment itu di manapun sebelumnya. Subhanallah, saya langsung terharu saat sudah menyadari ketekaitan antara azan dan berbondong-bondongnya orang-orang berlari masuk masjid. Ah,  sekali lagi. Aikmel, Lombok, I’m in love.

 

Kami menyusuri Jalan Wisata Gn. Rinjani saat lepas maghrib. Trek jalan nya mirip dengan Sitinjau Lauik di Padang, yaitu berkelok-kelok dan naik-turun. Mobil melaju pelan dengan jalanan menanjak terus. Tiba pada suatu tanjakan yang lumayan terjal, sesuatu berbunyi dari belakang mobil. Dukk. Kami panik. Lampu jalan tidak ada, kiri-kanan hanya terlihat pohon besar mungkin sejenis pohon cemara yang sedang menggersang. Jalan sepi sekali, bahkan pada waktu itu hanya mobil yang kami tumpangi ini berada di jalan tersebut.

 

Bapak pengemudi menahan rem mobil khawatir kalau-kalau mobil mundur. Kemudian kami segera keluar dari mobil. Ternyata isi bagasi mobil keluar. Keril-keril kami berjatuhan dan ada yang menggelinding. Suasana saya rasakan agak mencekam karena tidak ada kendaraan lain yang lewat, kiri-kanan seperti hutan dan gelap hanya ada lampur sorot mobil. Rasanya kayak di film horor, haduh.

 

Sesegera mungkin kami rapihkan kembali keril-keril dan menutup rapat pintu belakang mobil. Terlepas dari itu semua, ternyata mobil ini tangguh. Tanjakan-tanjakan dan hutan-hutan berlalu. Sampailah kami di jalan yang sudah banyak pemukiman. Tak lama, meski saya sempat tertidur sebentar, akhirnya kami sampai di rumah singgah. Saya pikir seperti basecamp gunung pada umumnya, ternyata benar-benar rumah warga yang sengaja diperuntukkan untuk singgah-nya para pendaki Gn. Rinjani. Perihal penentuan rumah mana yang mendapat giliran untuk dijadikan rumah singgah ternyata sudah diputuskan bersama oleh ketua RT setempat dan pihak open trip. Jadi teman-teman, dari sinilah salah satu pencaharian warga Sembalun, yaitu penyedia rumah singgah.

 

See you on next Pendakian Gunung Rinjani #2.

 

  • Share:

You Might Also Like

10 silakan tinggalkan komentar ya teman pembaca :)

  1. Wah seru banget ya, ditunggu kelanjutannya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiii kak mayufff, terima kasih untuk waktunya sudah berkunjung kak...

      Saya auto terharu jadi pingin cepat-cepat rampungkan part 2 hehe, ditunggu yaaaa

      Delete
  2. Padahal aku tinggal di Bali, tapi ngga pernah mendaki Rinjani. Hehehe. Terima kasih kak udah share, ditunggu part 2 nya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hii kak galuh ginanti ..terima kasih waktunya sudah berkunjung...

      Ayoo kak, Bali - Lombok dekat yaa hehe, bisa ayo bisa..

      Jadi terharu kakak juga nungguin part 2, makasih ya kak jadi bikin saya semangat rampungkan part 2 hehe

      Delete
  3. lanjut dong kak! nggak sabar mau baca ceritanya sampe selesai.

    btw rinjani amankah kah untuk orang yg nggak pernah naik gunung atau bukit? aku pingin soalnya.. karna aku yakin ada pengalaman dan pelajaran hidup yang bisa kita dapetin xd

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hii kak ichaasaa, terima kasih waktunya untuk berkunjung..

      Wah! Saya juga ga sabar rampungkan part 2 kalau gini, saya jadi terharu ditungguin hehe

      Hmm, kalau menurut saya, jika persiapannya baik, benar dan matang, bisa saja kak...dengan catatan lewat jalur sembalun dulu ya..kaka juga bs ikut open trip, panitia akan ngurusin segala hal, kakak tinggal persiapan fisik extra saja, insyaallaah bisa..yakin bisa..hehe

      Banyak banget pengalaman nya kak, berkesan..saya berniat tahun depan ingin ke sana lagi, karna masih ada janji ke diri sendiri untuk camping di tepi danau segara anak

      Yok bisa yokk

      Delete
  4. Waah seru-seru dan berani banget mendaki gunung Rinjani dari jakarta ya.. Niat yang menyala-nyala mbak!! Salut banget :D
    Aku jadi kangen naik gunung huhu.. mungkin aku akan agendakan bisa naik gunung lagi di 2021 hehe-- sudah lama banget aku ingin naik gunung Rinjani tapi belum kesampaian, karena selalu terbanyang ketika aku naik gunung diatas 3000mdpl, yang capeknya luar biasa, tapi juga senangnya luar biasa haha

    Terima kasih mbak sudah berbagi ceritanya, menambah motivasiku juga hehe
    Can't wait for the next story!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hii aqmarinaa...ketemu lagii..

      Iyah ini terniat banget, klo dipikirpikir lagi sampe sekarang, tp it's done, ternyata aku bisa lewati, alhamdulillah, berkat teman yg batalin pergi bareng juga sih kan haha

      Samasama terima kasih juga...cerita mu juga banyak bikin support buat aku nulis, buanyaaak banget trip yg masih bel diceritakan, aku berniat menyelesaikan semua satu per satu sebagai jejak digital, kalau kalau suatu saat aku lupa pernah mengalami pengalaman itu atau pengen nambahin cerita nya lagi saat ingat kan..

      Can't wait juga ni nyelesein postingan rinjani inii...

      Terima kasih yaaaaa

      Delete
    2. Hiiiiii barusan banget tayang hehe silakeunnn

      Delete

silakan boleeh komentar yaa