Kisah Pendakian Gunung Sindoro via Kledung

By sonyaaa - 7/18/2020 09:38:00 PM

Ini merupakan pendakian kedua saya di Jawa Tengah. Yang pertama adalah pendakian Gunung Prau. Kebetulan saya diajakin sama teman kantor untuk pendakian ini. Ya, pilihan jatuh ke Gunung Sindoro yang awalnya sempat ragu ingin ke Merbabu. Beberapa orang dari tim ini sudah pernah ke Merbabu, jadinya pilihan dijatuhkan pada gunung yang sama-sama belum pernah kami datangi.


Kami memutuskan untuk menyewa mobil sebagai alat transportasi. Tak lain adalah agar lebih santai dalam perjalanan, tidak terburu-buru seperti menumpang pada transportasi umum. Lagi pula ada dua orang dari kami bisa nyetir jadi bisa gantian. Jujur saja memang lebih enakan kalo pakai kendaraan mandiri ketimbang kejar-kejaran dengan waktu saat naik angkutan umum.

Teman-teman dari Jakarta menjemput saya di Karawang. Hoiya, salah satunya adalah teman kuliah saya, terbang langsung dari Palembang. Berniat ingin mengisi waktu liburan dengan trip mendaki gunung. Posisi waktu kala itu hampir mendekati tengah malam, barulah tim Jakarta tiba di kontrakan saya. Saya sudah prepare sedari pulang kerja. Agaknya lumayan banyak perkakas tim yang akan diangkut dari tempat saya.

Setelah memindahkan barang-barang ke mobil, kami melesat segera. Namun menepi sebentar untuk makan malam, begitu fokus dengan packing hingga kami lupa untuk mengisi perut. Jadinya kami mampir di warung pecel lele-ayam yang masih buka tepat di seberang Alfamidi. Kebenaran juga logistik untuk perjalanan di tol belum kebeli, terus ya kami mampir lagi di Alfamidi tersebut.

Memasuki jalan tol Cipali, ternyata hujan lebat turun. Buru-buru mobil menepi di bahu jalan tol terdesak untuk membetulkan posisi keril yang tengah ditumpuk di atas atap mobil. Beneran kerilnya udah hampir basah kuyup. Beruntungnya kami berhenti di bawah jembatan tol sehingga tidak ikut kuyup saat memasang pelindung keril. Sempat kami berhenti sejenak di rest area, entah KM berapa, saya lupa.

Melihat teman nyetir rasanya tidak enak untuk ditinggal tidur terlalu lama. Kami bergantian berjaga untuk menemani driver. Sekadar ngobrol untuk bantu hilangkan kantuk. Kemudian malam berganti menjadi pagi. Hampir pukul setengah enam pagi, jalan tol ini terlihat semakin sepi. Bahkan rasanya hanya mobil kami yang lewat saking sulitnya menemukan pengendara lain. Makin pagi makin terbangunlah semua dari kami, hingga suasana makin hangat oleh candacandaan, meski perut sudah lapar. Kami ucapkan terima kasih untuk teman kami sebagai driver, menempuh perjalanan yang sudah sejauh ini, hehe.

Sebenarnya saya lupa jalur yang dilalui saat itu. Yang jelas menurut info teman saya yang orang asli Jawa Tengah (lupa daerah mana nya), bahwa kami ambil jalur lintas tengah alias full lewat tol. Setelah keluar tol, mobil terus lewati aspal, hingga saya paling ingat dengan jalan yang kian menanjak, berbelok-belok seperti jalan Sitinjau Lauik di Sumatera Barat, namun yang ini lebar jalannya hanya cukup untuk satu mobil. Beneran saya engga tau ini daerah mana. Sampai-sampai karena saking paginya sulit sekali mencari warung yang sudah buka untuk mencari sarapan.

Singkat cerita, akhirnya kami berhenti di warung yang menjual soto. Sekalian kami menumpang bersih-bersih. Lumayan lama kami rehat di sini, hingga tidak terasa makin mendekati waktu zuhur. Buru-buru kami angkat kaki dan melanjutkan perjalanan. Butuh satu jam lagi untuk sampai di Basecamp Kledung.

Start Pendakian – Basecamp Kledung

Bukan main ramainya basecamp ini. Saat kami telah sampai, ternyata motor sudah berjejeran parkir di depan kantor basecamp. Terasa penuh sesak apalagi hanya melihat dari kejauhan. Berarti sudah banyak yang naik lebih dulu, pikir kami. Dan benar saja, untuk melakukan registrasi saja butuh effort yang extra. Harus antri sampai belasan hingga puluhan antrian. Luar biasa! Sejujurnya saya jadi pesimis bisa ikut naik hari itu, mengingat semakin mendekati waktu asar. Jangan-jangan akan naik malam lagi.




Terkantuk-kantuk mata saya menunggu di antrian. Sebelumnya kami sudah sangat ready, sudah makan siang, sudah mandi, bersih-bersih dan packing ulang. Rasanya saya tidak sabaran untuk segera memulai pendakian.

Pukul 14.55 setempat kami sudah menyelesaikan rangkaian agenda registrasi. Ohiya, aturan yang diberlakukan di Basecamp Kledung ini adalah tidak boleh membawa tisu basah, bahkan tisu kering. Juga setiap tim harus membawa sampah dan menyerahkannya ke petugas basecamp saat telah turun. Jika tidak, maka akan dikenai denda. Saya lupa dendanya apa, hmm.

Saya perkenalkan tim pendakian kali ini, ada Isnu-Dian-Ai-Teman Mas Aziz-Mas Aziz-Tomi-Abu-Farizan. Yap, kami bersembilan orang. Ohiya, Mas Aziz dan temannya tidak ikut mobil yang kami carter, melainkan berangkat mandiri dengan bus, dan basecamp ini menjadi meetpointnya. Lalu pendakian ini dimulai.

Jauh-jauh hari tentunya saya sudah googling mencari tahu tentang Gunung Sindoro. Sempat juga menyambangi akun-akun yang posting pendakiannya sekadar untuk bertanya mengenai kondisi cuaca dalam seminggu belakangan. Tentu untuk preparation. Jika hujan dan badai harus bagaimana dan jika tidak juga harus bagaimana. Berhubung pendakian ini dilakukan pada peralihan musim hujan ke kemarau, yakni Bulan April. Menurut informasi yang saya dapatkan, pastinya cuaca tidak menentu. Alhasil saya berdoa saja perjalanan akan dimudahkan apapun kondisinya.


Lepas dari basecamp, trek yang dilalui adalah jalan berbatu tidak begitu lebar. Kanan-kiri jalan masih ditemani rumah warga. Sesekali motor trail hilir mudik. Oh ternyata bapak-bapak pengendara ini adalah ojek. Saya langsung amaze, disini ada jasa ojek. Awalnya mikir harga jasanya pasti lumayan mahal. Namun kami tetap melanjutkan perjalanan meskipun terlihat banyak pendaki yang sedang menunggu antrian ojek. Hmm, ini semacam godaan.

Tak disangka, cuaca begitu cerah. Sebegitu cerahnya hingga membuat langkah kami sangat pelan karena menyambil berfoto. Jika melihat ke arah belakang, tampaklah Sumbing dengan sangat jelas sedang gagah-gagahnya. Langit sungguh membiru. Para pendaki lain yang kian berdatangan membuat kami tersadar bahwa perjalanan ini harus dilanjutkan.

Tahukah sahabat pembaca, jalan setapak berbatu ini terus dipadati pendaki. Sungguh, ini cukup ramai. Jauh di depan sana sepertinya sudah banyak juga antrean pendaki. Kami semakin khawatir apakah akan masih ada tersisa space untuk tenda kami nanti di camp area, hm. Namun yang terpenting di detik itu adalah hari semakin gelap, sudah sore menuju senja, sepertinya rayuan bunyi motor trail tidak terelakkan.

Naiklah saya dan Dian ke salah satu ojek gunung itu. Yahaha, demi alasan mempersingkat waktu, kami memutuskan untuk mencoba jasa ojek ini. Sepertinya seru. Ini pertamakalinya saya naik ojek gunung. Satu keril diletakkan di depan bapak driver, sedang saya dan Dian berdua dibelakang memasang posisi yang aman dan nyaman sesuai dengan perintah bapaknya. Dan....

Gilaaa! Motor trail ini patut dikasih award terlebih ke bapak drivernya. Dengan cekatan bapak ini memainkan stang motor melintasi batu-batu besar. Posisi track bukan menurun ya, melainkan terus menanjak. Saya dan Dian terpekik dan sesekali tertawa saking seru dan dramatisnya. Sepertinya agak lebay perumpamaannya ya, hehe.


Akhirnya sampai di pos satu setengah, ternyata pendaki lain yang sudah lebih dulu naik ojek masih bersantai disini. Mungkin menunggu temannya yang sedang antri ojek. Suasana selalu menjadi heboh setiap kali ojek datang dengan gaya kerennya sedang membawa motor trail. Gayanya layak seorang pebalap motogp.

Tak lama anggota tim kami sudah lengkap dan perjalanan hiking dimulai. Track menuju pos 2 terus menanjak didominasi oleh tanah keras berpasir. Pukul 17.14 kami tiba di pos 2. Di pos ini pun masih ramai oleh pendaki yang sedang rehat. Tidak lupa senda gurau antar pendaki yang tidak saling kenal selalu membuat suasana pendakian menjadi hangat. Setelah laksanakan kewajiban asar, kami pun segera angkat kaki berlalu dari pos 2. Mengingat sudah masuk waku senja sedangkan kami masih di pos 2.



Track selanjutnya adalah berupa jalan setapak yang kanan kirinya sangat rimbun ditumbuhi tanaman khas hutan. Sesekali kami harus menunduk dikarenakan ada pohon kecil yang melintang di jalan. Sejujurnya saya engga begitu ingat mengenai ritme perjalanan sampai ke camp area. Jika dari member tim yang sedang membaca ini ingat, bolehlah dibagi di kolom komentar hehe.

Kami menjadi panik saat mendapati bahwa camp area pertama sudah penuh. Luar biasa, alih-alih untuk mendirikan tenda, nyari tempat istirahat sebentar saja sangat sulit. Jalan menuju camp area kedua pun juga terpakai oleh pendaki lain. Kemudian dua orang anggota tim kami memilih melanjutkan perjalanan ke camp area kedua booking lokasi berkemah.

Perjalanan terus dilanjutkan. Perut kami belum diisi nasi. Badan terasa sudah disisa tenaga akhir. Akhirnya sampai juga di camp area kedua. Beruntungnya masih ada lahan kosong untuk mendirikan tenda. Tak apalah jika tidak dapat view sunrise yang apik, katanya camp pertama adalah sunrise camp dimana lokasinya sangat baik untuk menikmati sunrise. Tak apa pula kalau lokasi tenda kami agak miring, lumayan.

Akibat dari kelelahan saya sendiri tidak bisa mengolah logistik. Begitu juga teman tim lainnya. Kami hanya merendam makanan sejuta umat pendaki, mie rebus. Itu pun dimakan bersama. Malam semakin dingin ditambah pundak seperti ketiban beban berat seharian.  Saya sebut bahwa malam itu sungguh tidak aman. Babi kerap kali datang untuk mencari logistik. Saya tidak bisa tidur pulas dengan cepat. Resleting tenda bagian depan lepas. Beberapa kali dicoba untuk dipasang kembali tetap saja belum berhasil. Semakin malam badan saya terus bergeser ikut gravitasi karena lokasinya sangat miring.

Summit Attack Day

Sayup-sayup suara teman pendaki lain terdengar dari dalam tenda, membuat saya ikut bangun. Ternyata saya melewati sunrise karena saking lelahnya berperang dengan kantuk, dingin dan kemiringan tenda. Saya ikhlaskan karena tidak bisa menikmati sunrise. Segera kami gelar acara sarapan pagi, bersiap untuk summit. Ohiya, kebetulan tidak perlu bangun pagi buta untuk summit attack di Sindoro. Puncaknya sangat bersahabat dikunjungi kapanpun, yang mana tidak seperti puncak Mahameru yang maksimal jam sembilan pagi sudah mulai turun.





Pukul 07.00 kami mulai pendakian untuk menuju puncak Sindoro dengan membawa beberapa persediaan makanan dan minuman. Track-nya langsung menanjak tiada henti. Asiknya beban bahu tidak terlalu berat karena tidak membawa keril. Semakin ke atas semakin menanjak. Hingga saya sempat berpikir sampai kapan tanjakan ini berakhir ya? Saya simpulkan bahwa track summit attack-nya Sindoro ini terasa lebih melelahkan dibanding dengan Rinjani. Track ini lebih tidak asik daripada tujuh bukit penyesalan.



Hal paling mengagumkan dari track summit attack ini adalah Gunung Sumbing yang gagah berdiri, jika kita membalikkan badan. Mirip sekali dengan track cadas Singgalang, Gunung Marapi seperti mengikuti dari belakang. Kemudian kami menepi untuk menikmati Sumbing. Sangat sangat menikmati muncak. Hingga tidak sadar bahwa persediaan air menipis. Padahal ternyata masih sejam hingga dua jam lagi untuk sampai di puncak. Pelajaran sekali untuk berikutnya harus bawa cukup air karena track menuju puncak tergolong panjang.


Seakan lupa pada waktu, mungkin durasi rehat kami lebih lama sehingga rasanya tak kunjung sampai di puncak. Namun kami sangat menikmati karena cengkrama dan senda gurau saat menepi beristirahat membuat suasana yang tadinya terasa letih menjadi nyaman. Menikmati lautan awan sembari minum kopi, teh ataupun susu hangat. Sangat lebih dari cukup. Kehidupan di perkotaan menjadi lenyap dalam ingatan. Disinilah kami, kecil diantara gundukan tanah gunung, mungil diantara hamparan awan.




Satu jam-dua jam berlalu. Tibalah kami di batas vegetasi yang ditandai dengan gundukan batu-batu cenderung besar dan runcing. Beruntungnya saya memakai sepatu khusus pendakian, padahal tadinya berniat agak nekat pakai sendal. Track dari sini benar-benar menanjak. 


Beratnya mulai terasa karena tenaga sudah terkuras habis sedangkan logistik mendekati habis. Dengan sisa tenaga yang ada, saya dorong terus badan untuk melangkahkan kaki. Satu dua teman saya sungguh tidak bisa dan tidak berniat lagi untuk menggapai puncak padahal tinggal puluhan meter lagi ke atas. Daripada pingsan jadi kami biarkan dia berhenti dan menunggu kami saat turun.

Sampailah saya di puncak Sindoro kira-kira sudah tengah hari, pukul 11.00. Artinya menghabiskan waktu empat jam untuk summit attack yang bisa dibilang dengan style santuy. Warna bebatuan di puncak Sindoro hampir mendekati putih pucat. Tumbuhan yang ada seperti mati, tidak berdaun, hanya ada batang-batang. Puncak ini berada di tepian sekeliling kawah. Terlihat kawah jauh di bawah sana. Dengan jelas bisa terbaca susunan kalimat yang dirangkai pendaki saat turun kesana. Luar biasa niatnya sampai turun ke kawah.




Tidak berlama-lama, kami segera turun untuk mengejar pesta makan siang. Rencananya akan pesta menghabiskan logistik yang tidak terpakai di hari sebelumnya. Perjalanan turun dari puncak pasti akan lebih singkat. Ohiya, tadi kan persediaan air kami sudah habis, maka terjadilah moment minta meminta kepada pendaki lain. Ini pertamakalinya bagi saya. Engga enakan sebenarnya karena pasti sama-sama butuh. Namun beneran saya sendiri butuh air, hehe. Terima kasih buat teman Dian yang ketemu di jalur turun, udah berbagi air dengan saya.

Sesampainya di tenda kami bergegas untuk masak. Menu dapur kaget kali ini ada ayam goreng, nugget, sosis, telur dadar, nutrisari natadecoo, ada sayuran lumayan komplit. Namun saking laparnya, kami ngemil indomie mentah yang digilir, huehue. Inilah moment yang paling hepi menurut saya kalau melakukan pendakian, ngobrol ceria saat masak. Ohiya, tak lupa saya ternyata juga membawa sambel ulek yang sudah digoreng saat di kos. Niatnya untuk dicampurkan ke ayam gorengnya. Dan makan bajamba dimulai. Tentunya tim lanang yang akan menyapu bersih semua menu yang sudah dibuat. Engga boleh disisain ya, hehe.


Makin sore, makin menuju senja. Kami cepat-cepat packing untuk turun. Mengejar malam, nantinya akan menginap di rumah Salam, sekalian Salam mudik. Track turun beneran saya agak lupa bagaimana kondisinya. Intinya kami tetap pakai jasa ojek lagi demi menghemat waktu dan tenaga. Bagi saya, track turun lebih menyenangkan daripada ketika naik. Seringkali saya terpacu semangatnya untuk ikutan lari meskipun niat di hati maunya santuy aja sembari menikmati sekali lagi alam gunung tersebut. Tapi dari beberapa pendakian saya sebelumnya, selalu saja terburu-buru mengejar waktu. Sepertinya memang perjalanan saat naik harus benar-benar dinikmati karena durasinya juga lebih lama daripada ketika turun. Noted to myself.

Akibat letih tak terkira, kami kecuali driver tertidur pulas saat dalam perjalanan ke rumah Salam. Saat terbangun tautau sudah posisi parkir di depan rumah Salam. Kami disambut hangat oleh orangtua Salam. Disuguhi teh anget, cemilan, bahkan makanan berat. Padahal kalau engga salah ya itu sudah dekat dengan tengah malam. Saya dan Dian dikasih kamar untuk istirahat. Alhamdulillah kaki, tangan, punggung, pundak, pinggang dan betis yang keram bisa diistirahatkan dengan posisi pewe. Saya tidur dengan sangat pulas seperti engga tau lagi itu hari apa, tanggal berapa, besok hidup ada agenda apa haha, yang penting tidur.

Esok hari kami bangun dengan tergopoh-gopoh. Badan masih keram. Saya sendiri sulit untuk jalan, ahah berasa seperti pengalaman saat naik gunung pertama kali ke Singgalang. Satu minggunya badan saya kaku. Makanan dan minuman sudah tersedia dengan sangat banyak dan bervariasi. Terima kasih sekali lagi untuk keluarga Salam ya. And the end, kami foto-foto bersama dulu sebelum tancap gas pulang ke Jakarta.


*akan ada video khusus perjalanan pendakian Sindoro, tapi belum rampung saya kerjakan. Nanti akan disisipkan di sini jika sudah finish ya, ditunggu aja. Sampai jumpa!

foto-foto : dokumentasi by all member

  • Share:

You Might Also Like

0 silakan tinggalkan komentar ya reader :)

silakan boleeh komentar yaa