Di-Dieng #2 – Pendakian Gunung Prau via Dieng

By Soniaaa - 4/21/2020 05:23:00 PM


*Agustus, 2018*

Pendakian ini kami mulai dari basecamp jalur Dieng. Untuk mencapai basecamp, kami harus melewati jalan kecil, kalau tidak salah ada spot melewati pemakaman. Sekitar pukul satu menuju dua kami tiba di basecamp. Namun kami tidak segera naik, melainkan packing ulang lalu melakukan kewajiban ishoma. Basecamp ini lumayan terawat dan penjaganya berjumlah cukup banyak. Jadinya tidak terlalu sepi. Berhubung kami baru sampai, basecamp ini terlihat sepi pendaki karena mereka sudah naik sebelum zuhur. Selang satu jam kemudian, kami mulai lah pendakian ini.

Peta pendakian jalur Dieng dapat dilihat seperti ini.


Pos 1 Gemekan

Menuju pos ini didominasi oleh jalur petani yang mana kiri-kanan adalah lahan pertanian. Mulai dari bawang daun, kentang khas Dieng dan jenis tanaman lainnya. Jalurnya terus menanjak sedikit demi sedikit. Karena ini merupakan awal, jadinya cukup engap menjelang terbiasa. Dari basecamp butuh waktu sekitar 15 menit untuk tiba di pos 1.

Pos 2 Semendung

Masih ada signal handphone di pos ini. Medan trek nya masih terus menanjak namun kontur tanah nya padat cenderung berdebu pekat. Bagusnya pakai buff saat melewati jalur ini. Sampai lah pada “bukit akar cinta” yang khas dengan pepohonan tinggi. 


Karena banyak akar pohon cukup membuat kami harus lebih hati-hati melangkah. Namun teriknya matahari tidak langsung mengenai tubuh karena terbantu oleh daun pohon yang tumbuh rapat. Waktu tempuh dari pos 1 ke pos 2 kami habiskan sekitar setengah jam.

Pos 3 Ranger

Medan yang dilalui ke pos 3 hampir sama dengan perjalanan menuju pos 2. Ritme kami mulai bagus kembali sehingga kami dapat melewati Batu Kayangan dengan lancar. Medan di jalur ini cukup menguras tenaga karena debu tanah sisa dari langkah kaki makin tebal, juga karena beberapa gundukan tanah besar mengharuskan membuat langkah kaki yang panjang. Jika hujan pasti lah kondisi medan ini makin berbahaya karena rawan licin.

Pos 4 Puncak

Iya. Kami sudah sampai di puncak Prau.
Nah, jika via Dieng maka puncak akan terlebih dahulu ditemukan baru bukit teletubis. Terdapat papan nama tanda bahwa kami telah sampai di Puncak Prau 2.590 mdpl. Dilarang camp di area ini karena di lokasi ini pernah terjadi peristiwa pendaki tersambar petir. Berhubung sudah makin gelap maka kami teruskan perjalanan.


Tidak jauh dari area puncak tadi, dengan turun sedikit dari puncak maka sampailah kami di area camp Telaga Wurung. Sepertinya disini lah tempat yang tepat mendirikan tenda jika ingin ke puncak bagi pendaki dari jalur Patak Banteng. 



Trek berikutnya didominasi dengan padang rumput yang coklat. Sepertinya jika musim hujan tanaman disini akan berwarna hijau. Namun warna tanaman yang cenderung coklat emas ini memberi kesan lain seperti berada di suatu padang rumput di luar negeri. Kabut pun mulai turun makin membuat pemandangan serasa tidak di Indonesia.

Kami percepat langkah kaki karena semakin gelap. Niatnya ingin mendirikan tenda di sunrise camp agar bisa merasakan view gunung-gunung yang tampak dari Prau. Namun karena badan juga sudah letih dan makin gelap, kami putuskan untuk mendirikan tenda di salah satu puncak bukit teletubis. Tampaknya lokasi ini masih jauh dari area sunrise camp karena dari area ini samasekali kami tidak bisa melihat gunung kembar.

Sunrise camp

Pagi datang. Pagi sekali kami bangun, saat azan subuh kira-kira pukul empat lewat. Tentu masih gelap namun dinginnya sungguh dingin karena ini musim kemarau. Suhu di gunung akan lebih dingin dibanding saat musim hujan. Bergegaslah kami persiapkan sarapan ala kadarnya. Kemudian kami teruskan untuk mengejar salah satu sunrise terbaik di negeri ini.


Matahari perlahan mulai naik membawa warna emas nya yang indah. Satu kata: menakjubkan. Tepat sekali ini memang sunrise yang mempesona. Sepanjang perjalanan menuju sunrise camp, kami ditemani oleh hangatnya sinar matahari pagi. 




Rasa penasaran akan sunrise camp kian memuncak hingga membuat hati tak sabar, maka berlari-lari kecil lah kami ketika menemukan makin padatnya tenda pendaki. Ternyata ini lah sunrise camp. Seperti pasar, hehe.


Tak dikira-kira, sepertinya ada ratusan pendaki telah berada di area ini. Tampak hamparan tenda warna-warni memenuhi mata ini. Berhubung Agustus, maka mudah sekali dijumpai bendera merah-putih. Artinya Prau adalah salah satu tempat favorit untuk merayakan kemerdekaan bangsa ini. Dan kami juga tidak ingin ketinggalan mengabadikan moment ini.

Kami cari lah spot yang sangat tepat untuk menikmati si gunung kembar, Sindoro-Sumbing. Sangat jelas sekali terlihat dua gunung ini. Sejauh mata memandang nun jauh disana, di sisi kiri kami duduk, puncak Merapi dan Merbabu mencuat sedikit dari hamparan awan putih.


Cooking Time

Yap! Inilah moment paling ter-menyenangkan bagi penulis sendiri. Masak-masak time, alias waktunya berkarya. Sekembalinya dari sunrise camp, buru-buru kami bongkar semua bahan logistik yang dibawa. 



Semua anggota tim ambil peran. Memasak nasi, membuat telur dadar, salad buah, minuman, nutrijel, aneka sayur dan tidak akan lupa menu favorit saat pendakian yaitu mie. Jika ditanya seberapa nikmat, ini adalah moment makan terenak yang sejauh ini dirasakan penulis. Terenak dan termewah. Salad nya kami gilir hingga habis nyaris tak ada sisa, bahkan ingin tambah porsi.




Dua hingga tiga jam kami habiskan untuk sesi makan dan berbincang-bincang. Kemudian kami putuskan untuk segera packing untuk turun ke basecamp. Matahari semakin naik tanda makin siang. Waktu yang kami punya sangat terbatas karena ini Minggu lalu besok Senin harus masuk kerja. Kami akan kejar bus sore ke Terminal Mendolo.

Perjalanan turun kami buat sedemikian asyiknya hingga ternyata ritme nya terbilang cepat. Mungkin ada yang tidak sabaran ingin ke toilet atau memang sudah letih lutut dan tumitnya, hehe. Hingga tiba di basecamp, kembali kami temukan petani lokal sedang memanen tanaman. 



Pemandangan yang sangat syahdu, pasti sangat menyenangkan sekali memetik bawang daun dan kentang hasil jerih payah dari bercocok-tanam. Lepas dari bersih-bersih dan packing ulang, kami dijemput kembali oleh driver bus mini yang kami tumpangi. Asyiknya, kami kembali diajak berkeliling berburu oleh-oleh khas Dieng dan menikmati wisata Telaga Menjer hingga mencicipi mie termahsyur, mie ongklok.





Sampai jumpa di tulisan DI-DIENG #3.

Bonus Allert!

Video perjalanan Dieng-Prau:


  • Share:

You Might Also Like

0 silakan tinggalkan komentar ya reader :)