Catatan Cacing #2 - Mengonversikan Rasa

By sonyaaa - 3/31/2020 10:34:00 PM




Tentang Rasa

Ini adalah tulisan perjalanan rasa yang tak tahu dimulai sejak kapan, dimana dan apakah akan berakhir entah seperti apa atau hilang begitu saja. Rumit memang menelaah rasa, apalagi menulis tentangnya. Bagaimanapun keadaannya rasa akan tetap ada, tapi ia tak abadi.

Sebagai pembukaan, aku akan memberimu sedikit kegelisahan tentang rasa; rasa pastinya diciptakan. Sistem seperti apa yang bisa menghasilkan rasa yang baik? Lalu bagaimana cara merawatnya? Apakah rasa bisa dirawat? Dengan apa? Jika rusak, apakah ada semacam tombol “atur ulang” untuk rasa?

Kita tahu yang selama ini sukses menghasilkan rasa dengan sangat baik ialah otak, ia mengirimkan perintah ke indra atau organ lain agar bisa merasa (begitulah kata ilmuan). Tapi apakah sudah pantas ilmuan mendeklarasikan otak sebagai penghasil rasa?  Bukankah ia hanya memerintah? 

Itulah sedikit kegelisahan tentang rasa untuk kalian. Renungkan. Dengan segenap renung; maka rasa ialah yang dimiliki setiap atom pembangun organ di semesta tubuh dan batin penghidup jiwa yang menyeluruh dari yang kalian sebut manusia.

Rasa sudah dimiliki setiap atom pembangun organ tubuh manusia, otak hanyalah pipa-pipa sambung yang mempertemukannya dengan kesadaran yang juga dapat dipengaruhi rasa. Rasa sangat dipengaruhi oleh keadaan, seperti bunglon yang akan berubah melapisi setiap membran organ mengikuti yang disentuhnya. Lantas bagaimana mengatur rasa sementara kamu tak sama sekali mampu memanipulasi keadaan? Bagaimana jika keadaan membuat rasamu berwarna hitam sementara yang kamu kehendaki ialah putih? Tapi darimana datangnya kehendak? Baiklah perjalanan tulisan ini sudah sampai pada waktu dimana kamu akan kuperkenalkan pada 'hati'.

Tentang Hati

Cerita ini sudah mulai jauh. Jika kamu ingin berhenti membaca, maka lakukanlah sekarang. Sebelum kamu semakin jauh terseret dalam metafora  apa saja yang aku tulis. Baiklah, aku sudah memperingatimu untuk berhenti membaca. Jika keras hatimu memaksa, untuk menjagamu agar tetap baik-baik saja, akan kujabarkan siapa hati dan bagaimana ia bekerja.

Hati memiliki ruh yang sangat getas, tak bisa dibengkokkan dan sangat mudah dipatahkan. Meski begitu ia dibangun oleh bahan-bahan yang sangat keras. Hati kecil sangat keras. Hati remaja sangat getas. Hati besar sangat dingin. 

Dari ketiga usia hati di atas, sangat berpengaruh terhadap kehendak yang dihasilkan hati. Bagaimana memperoleh kehendak yang baik, kehendak seperti apa yang baik? Kamu harus mengenal hati agar kehendak  hatimu bisa menyesuaikan warna rasa yang diberikan keadaan. 

Selamat! 
Kini kamu telah mengetahui fungsi otak, menelaah lebih dalam bagaimana rasa bekerja dan mengenal apa saja sifat hati. Maka sampailah tulisan ini pada bait-bait dimana hanya renungan menyeluruh yang akan menjadikan tulisan ini menjadi benar-benar sebuah tulisan.

Sebagai manusia, rasa dari setiap organ yang kita punya tak mampu memanipulasi keadaan, menolak keadaan, atau bahkan merubah keadaan. Rasa akan selalu berubah seiring keadaan yang datang di hadapan waktu. Maka, disana lah peran hati bekerja. Jangan sampai salah menempatkan hatimu, jadikanlah dia hati yang selalu berkehendak baik. Menjadi keras saat sedang berusaha, menjadi getas saat memeluk sesama, menjadi dingin ketika berhadapan dengan omong kosong.

Mengonversikan Rasa

Jika kehendakmu tak bisa menyesuaikan keadaan, maka itulah saat yang tepat mengonversikan rasamu setidaknya menjadi rasa bahagia bagi dirimu sendiri. Saat itulah kamu memerlukan otak untuk mengirimkan pesan kepada semua organ agar mereka menjadi rasa bahagia, apapun keadaannya.

Setio Saputra (hidup ialah tentang seni mengonversikan rasa) 
Jakarta 30 Maret 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 silakan tinggalkan komentar ya reader :)

silakan boleeh komentar yaa