Telaga dewi, Ranu Kumbolo-nya Singgalang

By Soniaaa - 4/30/2014 01:26:00 PM


Gunung Singgalang adalah pengalaman pertama-nya saya melakukan pendakian gunung. Sempet ragu se ragu-ragunya untuk ikut rombongan karena saya sendiri memang mengidap tekanan mental ketinggian alias takut ketinggian. Sampai sekarang jadi penasaran apa sih penyebab seseorang bisa takut ketinggian, karna takut jatuh? Jatuh banget??Wk.

Kebanyakan orang yang sudah ahlinya nya melakukan pendakian gunung sekitaran Sumbar bilang kalau trayek pendakian Gn. Singgalang ga banget buat pemula. Apalagi yang seperti saya, yang sangat sangat bin sangat amateur dalam dunia pendakian. Kondisi medannya dipercaya lebih berat daripada Marapi apalagi Talang. Well, Kerinci katanya lebih dewa beratnya dari gunung-gunung tadi. Marapi dan Talang menjadi tujuan favorit para pendaki selingkup Sumatera Barat dan sekitarnya. Terlebih Talang, bisa PP alias pulang pergi dalam sehari, hehe.

Pendakian pertama ini saya sangat excited, maklum first experience. Segala hal jadi pengen dibawa, takut kedinginan, takut kehujanan, takut kepanasan, takut kegelapan, takut jatuh, apalagi takut ditinggal huhu. Rombongan bisa dibilang cukup besar, ada bersepuluh lebih orang. Jadilah kita sharecost cuma Rp 50.000 per kepala untuk segala kebutuhan pendakian. Mulai dari biaya transportasi, simaksi, logistik dan lainnya. Sebagai pemula saya cukup nyaman dan aman dalam rombongan ini, karena kebanyakan sudah yang berpengalaman.

Perjalanan dimulai dari kampus Universitas Andalas. Meetpoint kita di jurusan sendiri. Butuh waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam dari Padang ke Koto Baru Bukittinggi. Kita gowes menggunakan sepeda motor dengan kecepatan tak tentu untuk sampai di basecamp pendakian Gunung Singgalang. Rata-rata para pendaki dalam kota memang menggunakan sepeda motor untuk transportasi ke tempat basecamp. Katanya lebih efisien dan menyenangkan. 

Bagi para pendaki yang berasal dari luar kota, dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) bisa menggunakan transportasi umum seperti bis yang isi nya 15-17 orang dari Simpang Duku BIM ke Kotobaru Bukittinggi cukup kasih Rp 22.000 aja. Nanti turun di Gerbang Kenagarian Pandai Sikek, kira-kira 50 meter sebelum Pasar Koto Baru yang ditandai sama warung yang jualan kebutuhan mendaki. Dari Pasar Kotobaru bisa jalan kaki aja (haha) tapi lumayan jauh sekitar setengah jam menggunakan kendaraan untuk sampai ke basecamp, titik awal pendakian, nah saya saranin sewa ojek aja gitu, yakalo ada.

Tim saya sampai di pos pendakian awal setelah Isya. Perjalanan dengan sepeda motor membuat anggota tim cukup lelah hingga disepakati kami camp malam itu. Terlebih mengingat anggota wanita yang newbie cukup banyak jumlahnya, harap maklum!
Malam pertama camp di kaki gunung berasa something bagi saya. Dingin. Menusuk. Gelap. Tapi syukur masih nyenyak tidur hingga pagi.

Sunrise di Kaki Gunung Singgalang


Udaranya begitu dingin, dan katanya jika diatas puncak nanti akan lebih dingin dari ini. Waaaa, gak kebayang, soalnya di kaki gunung begini aja udah kedinginan, Akhirnya subuh dating.  Ya subuh itu indah dan kala itu dia bermula dari matahari yang datang dari balik Gunung Marapi. Azan subuh terdengar dari kejauhan, dari segala penjuru wilayah Padang Panjang dan Bukittinggi. Satu persatu lampu-lampu penerang saat tengah malam tadi mulai hilang dan berganti dengan sinaran matahari. Dan saya menjadi sangat rindu gunung dengan salah satu agenda wajib mendaki, memasak. Hal yang membuat saya sangat gembira kaya anak kecil dapat mainan baru, memasak di gunung. 

Menu yang dibuat pun seperti sangat nikmat ketika masih berada di kaki gunung, panas-panas. Bahhh, ga bisa diungkapin selezat apa padahal yang dimasak ya menu andalan pendaki, mie-sosis-nugget-sarden dan kawankawannya. To be honest, it’s more delicious than pizza or something like that, etapi dengan syarat ya dimasak di gunung, yep.



Habis beberes dari camp semalam, tim langsung bergegas untuk melakukan perjalanan. Saat itu sekitar pukul 10 pagi. Doa bersama dulu. Semoga perjalanan lancar jaya, dan pulang dengan selamat.
Sesaat kemudian wajah sumringah habis makan lezat langsung jadi pucat pasi. Baru aja beberapa meter. Ya Tuhaan, ternyata begini, begini namanya yang naek gunung. Rasanyaa… kaga kuat. Perut kembung seketika jadi keras ngebatu karna habis diisi full tenk. Hadeh, padahal baru beberapa meter aja. Saya dalam hati berkecamuk, pingin pulang, udah aja. Tapi ya ga mungkin, masa gitu aja udah nyerah. Nah! Itu dia feel nya naek gunung. Kalau dikata sama mas jalanpendaki: Fall seven times, stand up eight! Maknanya, biarpun jatuh berkali-kali tetapi harus bangkit, dan jangan jatuh lagi. Duh, jatuh ya. Ck.

Seiring berjalannya waktu saya mulai terbiasa mengikuti irama langkah kaki anggota lainnya. Jujur lah, saya gak mau di cap sebagai gampang lemah, masa gitu aja udah nyerah. Ya gak lah! Jangan! Hehe. Beberapa kali saya merasakan sesak napas karna baru mencoba rasanya bernapas di hutan, eh di gunung. Hembusan napas keluar lewat hidung semua, padahal kan bagusnya keluar lewat mulut perlahan-lahan. Maapkeun belum terbiasa, yap pantes karna jarang olahraga juga jadi ga bisa atur napas dengan baik dan benar.

Ya, pendakian dari tempat camp sebelumnya membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam lebih untuk mencapai kaki cadas. Kami sampai di kaki cadas Gunung Singgalang sekitar jam 3 sore dan baru melanjutkan pendakian pukul 4 sore. Kala itu teman-teman kelelahan dan butuh istirahat sebelum menaklukan cadas. Jadinya semua bobok cantik dulu di kaki cadas. Pules, pake banget. Sampe mikir camp nya disini aja, ga usah ke telaga. Yakali mau camp sendirian disana, ck.

Naik terus, tau-tau udah nyampe di cadas. Katanya lokasi camp kedua berada di balik bukit cadas. Ya, cadas itu. Mau nangis aja rasanya ngeliat cadas yang aduhai tinggi dan curamnya. Serasa ga mau ikut lagi, haha ampun. Lalu benar saja, saya benar-benar merangkak di cadas. Sesaat udah hampir selesai penderitaan bersama cadas, menengoklah saya ke arah belakang. Ngeri, kawan. Gunung Marapi berdiri kokoh disana. Laksana ingin menerkam yang kemudian saya bayangkan dalam pikiran, macam harimau aja mau menerkam. Ck.

Kondisi medan selanjutnya agak becek-becek gak karuan karena lumpur yang menipu. Tak apa lah sepatu non safety jadi korban asal kaki tetap safety. Lumpur demi lumpur dilalui, kadang ada yang kecebur sebadan-badan akibat kena tipu lumpur. Terkadang ada yang kakinya dimana eh sepatu nya dimana karna ketinggalan di lumpur. Ada juga yang sangat sigap biar ga kena tipu lumpur, dan mereka adalah golongan-golongan yang sudah berpengalaman dengan dunia tipu menipu kondisi medan pendakian gunung.

Hingga akhirnya saya merasa putus asa sesaat, mungkin juga anggota tim lainnya. Sudah mau magrib, sudah hampir gelap! Tapi badan belum jua sampai di tujuan. Yang lain sesekali menyemangati –dikit lagi, ayo dikit lagi- perasaan saya dari awal menanjak tadi bilangnya dikit lagi terus, yha. Huft. Gak cuma lumpur yang menipu, tapi yang nginjak lumpur juga suka nipu, yahah.

Telaga dewi, serupa tapi sama dengan Ranu Kumbolo

Telaga cantiknya Gunung Singgalang. Saya menyebutnya Ranu Kumbolo-nya Gunung Singalang. Cantik. Hati damai dan tentram jika melihat cerminan pepohonan sekitar yang tergambar di air telaga itu. Lokasi tepi telaga dewi adalah lokasi camp favorit bagi pendaki karena dekat dengan sumber air. Rata-rata tenda-tenda akan tersebar di setiap tepian telaga. Namun tanah tepi telaga agak gembur, bisa becek banget kalau lagi hujan, jadi kurang nyaman aja kalau mau camp. Mending cari lokasi yang agak jauh dari tepi telaga. Di telaga dewi kita bisa menikmati sunset nya Gunung Singgalang yang keren abis kalau cuaca lagi bersahabat.


Tower di puncak Gunung Singgalang.

Butuh perjalanan kurang dari sejam untuk mencapai tower karena tracknya “lumayan” heavy karena sana-sini banyak tumbuhan lumut bisa dibilang hutan lumut yang licin. Saya sempat tidak sanggup karena oksigen kian menipis. Ya, saya merasakan sesak napas karena kurangnya asupan oksigen yang efeknya pusing-pusing sedikitlah. Agak cekit-cekit minta balik ke telaga lagi tapi lagi-lagi ga mungkin balik sendirian, ck. But, finally MT. SINGGALANG 2877 MDPL!! Oyea, Akhirnya saya pernah mencoba merasakan pengalaman mendaki gunung, sampe puncaknya, meski puncak gunung yang ini selayaknya ga bisa dibilang puncak karena cuma ada tower doing, kesel, tapi yaudasih, yang penting bisa muncak, ahehe.

Perjalanan turun dari telaga dewi, kembali bertemu cadas. Kali ini bukan ngerakak tapi ngesot, haha. Yang ada bokong jadi korban. Nyampe di basecamp kembali udah serasa ga punya bokong. Kayak udah digerus tanah, haha, ga deng. Turun gunung lebih asik menurut saya daripada naik. Yawla, kalo turun gunung mah lutut berasa longgar, kalo naik engsel berasa copot.

Pendakian gunung emang capek, pake kebangetan. Pulang-pulang udah berasa jadi kakek nenek yang badannya udah reot, susah di apa-apain. Tapi itu mah cuma sesaat. 1-3 hari aja cukup merasakan penderitaan dari pendakian gunung, habis itu, yang benar-benar kerasa banget feel perjalanannya, bakal KANGEN, pake BANGET BANGET.


See you all di cerita muncak selanjutnya, Jangan rindu saya, rindu gunung aja, haha, Bye.

  • Share:

You Might Also Like

0 silakan tinggalkan komentar ya reader :)